JAKARTA, KronikaNews.com – Keluhan sensasi terbakar di dada atau heartburn seringkali memicu kepanikan bagi penderitanya. Tak sedikit masyarakat yang mengaitkan penyakit lambung Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) sebagai pemicu langsung terjadinya henti jantung yang berujung pada kematian mendadak. Namun, benarkah klaim tersebut secara medis?
Fenomena kemiripan gejala antara GERD dan serangan jantung memang kerap menciptakan kebingungan. Keduanya sama-sama menimbulkan rasa nyeri di dada, sesak napas, hingga keringat dingin. Namun, para ahli menegaskan bahwa mekanisme kedua penyakit ini berada pada sistem organ yang sepenuhnya berbeda.
GERD vs Serangan Jantung: Serupa Tapi Tak Sama
GERD terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan (esofagus), yang menyebabkan iritasi dan rasa panas di dada. Sementara itu, henti jantung atau serangan jantung berkaitan dengan sumbatan pada pembuluh darah atau gangguan listrik di otot jantung.
dr. Andi Pratama, Sp.PD-KGEH, seorang spesialis penyakit dalam konsultan lambung, menjelaskan bahwa secara langsung, GERD tidak menyebabkan henti jantung.
“Secara patofisiologi, GERD adalah masalah pada saluran pencernaan, sedangkan henti jantung adalah masalah pada sistem kardiovaskular. GERD sendiri tidak merusak otot jantung atau menyumbat pembuluh darah jantung yang bisa memicu henti jantung. Jadi, GERD tidak secara langsung menyebabkan kematian mendadak seperti halnya serangan jantung,” ujar dr. Andi
Mengapa Sering Terjadi Salah Diagnosis?
Bahaya yang sebenarnya bukan terletak pada GERD-nya, melainkan pada kesalahan diagnosis. Banyak orang mengira sedang mengalami serangan jantung padahal hanya asam lambung yang naik, namun yang lebih berbahaya adalah sebaliknya: menganggap nyeri dada sebagai GERD biasa, padahal sebenarnya jantung tengah mengalami masalah serius.
“Banyak kasus kematian yang dilaporkan karena ‘asam lambung naik ke jantung’ sebenarnya adalah serangan jantung yang gejalanya mirip dengan maag. Inilah yang sering salah dipahami masyarakat,” tambah dr. Andi.
Kaitan Tidak Langsung: Kecemasan dan Irama Jantung
Meskipun tidak menyebabkan henti jantung secara langsung, penderita GERD kronis seringkali mengalami gangguan kecemasan (anxiety). Saat asam lambung naik dan dada terasa sesak, penderita bisa mengalami serangan panik yang meningkatkan denyut jantung (palpitasi).
Bagi individu yang memang sudah memiliki riwayat penyakit jantung bawaan, stres fisik dan psikis akibat gejala GERD yang hebat ini secara tidak langsung bisa memberikan beban tambahan pada kerja jantung. Namun, pada individu dengan jantung yang sehat, GERD tidak akan menyebabkan jantung berhenti berdetak.
Kapan Anda Harus Waspada?
Masyarakat diimbau untuk mengenali perbedaan krusial. Nyeri dada karena GERD biasanya memburuk setelah makan atau saat berbaring dan disertai rasa pahit di mulut. Sedangkan nyeri dada karena jantung biasanya terasa seperti ditekan beban berat, menjalar ke lengan kiri, leher, atau rahang, dan sering muncul saat melakukan aktivitas fisik.
“Jika nyeri dada tidak kunjung hilang dengan obat lambung dan disertai keringat dingin serta rasa lemas hebat, segera ke IGD. Jangan berasumsi itu hanya maag,” pungkas dr. Andi.
Dengan pemahaman yang tepat, diharapkan masyarakat tidak lagi terjebak dalam mitos “GERD mematikan jantung”, namun tetap waspada dalam membedakan gejala demi penanganan medis yang cepat dan tepat.
