KronikaNews – Kabar duka datang dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) terbesar di Indonesia. Peristiwa memilukan yang dikenal sebagai Tragedi longsor Bantar Gebang baru saja menelan korban jiwa. Sebanyak tujuh orang dilaporkan meninggal dunia setelah tertimbun gunungan sampah yang longsor secara tiba-tiba pada Selasa (10/3/2026).
Kronologi Utama Tragedi Longsor Bantar Gebang
Peristiwa naas ini bermula saat aktivitas pembuangan sampah sedang berlangsung di zona aktif. Berdasarkan data lapangan, cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah Bekasi sejak dini hari ditengarai menjadi pemicu utama. Air hujan yang meresap ke dalam gunungan sampah membuat struktur tumpukan menjadi tidak stabil.
Sekitar pukul 11.00 WIB, massa sampah dalam volume besar meluncur ke bawah dan menimbun para pekerja serta pemulung yang berada di area sekitar. Evakuasi segera dilakukan oleh tim SAR gabungan, namun sayangnya tujuh orang ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.
“Struktur gunungan sampah sudah mencapai titik jenuh. Ditambah curah hujan tinggi, longsoran menjadi tak terhindarkan,” ungkap salah satu petugas di lokasi kejadian.
Pemicu Longsor dan Evaluasi Keamanan
Selain faktor cuaca, kapasitas TPST yang sudah melebihi batas (overcapacity) disebut-sebut memperparah dampak Tragedi longsor Bantar Gebang. Tumpukan yang terlalu tinggi tanpa terasering yang memadai membuat risiko pergeseran tanah dan sampah meningkat berkali-kali lipat.
Pasca kejadian, operasional di beberapa zona TPST Bantar Gebang dihentikan sementara. Pemerintah daerah kini tengah melakukan investigasi mendalam terkait prosedur keamanan kerja di area tersebut. Tragedi longsor Bantar Gebang ini pun menjadi alarm keras bagi pengelolaan sampah di wilayah Jakarta dan sekitarnya agar lebih memperhatikan aspek keselamatan dan daya tampung lahan.











