PASAR KEBAYORAN LAMA: NADI PERDAGANGAN TUA DI SELATAN JAKARTA YANG TERUS BERTAHAN

SejarahPasar Kebayoran Lama

Pasar kebayoran Lama
Pasar kebayoran Lama

Pasar kebayoran Lama

Jakarta, KronikaNews

Di balik hiruk pikuk dan kemacetan di kawasan Kebayoran Lama, berdiri sebuah pasar tradisional yang menjadi saksi bisu perjalanan Jakarta dari masa ke masa. Lebih dari sekadar tempat jual-beli, pasar ini telah menjadi denyut kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya warga sejak era 1950-an.

Cikal Bakal Pasar: Dari Terminal ke Pusat Perdagangan

Pasar Kebayoran Lama mulai dikenal publik pada awal dekade 1950-an, tak lama setelah pembangunan kawasan Kebayoran sebagai kota satelit baru dimulai oleh pemerintah Hindia Belanda dan kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Republik Indonesia.

Pasar Kebayoran Lama | KronikaNews
Pasar Kebayoran Lama | KronikaNews

Pada awalnya, wilayah ini adalah jalur penting yang menghubungkan Jakarta dengan daerah selatan seperti Ciputat, Parung, dan Bogor.

Pasar ini berkembang secara organik di sekitar terminal angkutan dan jalur distribusi logistik. Banyak pedagang dari wilayah selatan yang membawa hasil bumi dan dagangan untuk ditukar atau dijual di kawasan Kebayoran.

Aktivitas tersebut lambat laun membentuk pasar permanen, yang kini dikenal sebagai Pasar Kebayoran Lama.

Masa Kejayaan: Tahun 1960-an hingga 1980-an

Memasuki tahun 1960-an, Pasar Kebayoran Lama menjelma menjadi salah satu pasar tersibuk di Jakarta Selatan.

Pasar ini menjadi titik vital bagi masyarakat dari berbagai latar belakang warga lokal Betawi, para pedagang keturunan Tionghoa, hingga pendatang dari daerah seperti Banten dan Jawa Barat.

Menurut catatan Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan DKI Jakarta, pada masa puncaknya, pasar ini menjadi sentra utama distribusi hasil bumi, tekstil, ikan, hingga perabot rumah tangga di Jakarta bagian selatan.

Suasana pasar selalu padat dari dini hari hingga sore, dengan aktivitas lelang, barter, dan jual-beli yang semarak.

Pasar Kebayoran Lama : Rehabilitasi dan Revitalisasi

Seiring waktu, kondisi fisik pasar mulai menurun. Pada akhir 1990-an, pasar ini mengalami kemunduran akibat kepadatan, sanitasi yang buruk, dan persaingan dari pusat perbelanjaan modern seperti ITC Permata Hijau, Gandaria City, dan Pondok Indah Mall.

Namun, upaya revitalisasi mulai dilakukan oleh Perumda Pasar Jaya dan Pemerintah Kota Jakarta Selatan.

Pada tahun 2012–2014, pasar ini sempat direhabilitasi sebagian dengan penataan kios, area parkir, dan jalur distribusi.

Meski belum sepenuhnya modern, upaya ini memberikan ruang baru bagi para pedagang untuk tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Fungsi Sosial dan Identitas Budaya

Lebih dari sekadar ruang ekonomi, Pasar Kebayoran Lama juga berfungsi sebagai ruang sosial masyarakat.

Di sinilah warga dari berbagai kampung—seperti Cipulir, Ulujami, Pondok Pinang, dan Grogol Selatan—bertemu, berbincang, dan menjaga silaturahmi.

Kegiatan seperti belanja menjelang lebaran, berburu takjil saat Ramadhan, atau membeli perlengkapan sekolah saat tahun ajaran baru, masih menjadi tradisi tahunan di pasar ini.

Di sejumlah sudut pasar juga terdapat pedagang yang telah berjualan lintas generasi, bahkan ada kios yang sudah dikelola oleh keluarga yang sama selama lebih dari 50 tahun.

Pasar Kebayoran Lama – Masa Depan

Kini, di tengah tantangan modernisasi dan tren belanja daring, Pasar Kebayoran Lama terus beradaptasi. Pemerintah dan komunitas warga mulai mendorong digitalisasi UMKM, pelatihan kewirausahaan, dan pengelolaan sampah berbasis komunitas di lingkungan pasar.

Pasar Kebayoran Lama | KronikaNews
Pasar Kebayoran Lama | KronikaNews

Rencana jangka panjang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus di canangkan. Mencakup penataan kembali kawasan pasar, integrasi dengan sistem transportasi publik (seperti Transjakarta dan MRT), serta menjadikan pasar sebagai bagian dari kawasan wisata budaya dan kuliner Betawi.

 

Editor: Suryaman
Foto: Arsip KronikaNews / Dokumentasi Dinas UMKM DKI Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *